Rumah Adat Aceh dengan Filosofinya

Setiap budaya setiap daerah selalu memiliki filosofi dari setiap hal yang mereka hasilkan. Filosofi tersebut merupakan cara pandang berfikir mereka tau cara hidup mereka. Contoh yang paling dekat adalah tentang sebuah filosofi dari rumah adat sebuah daerah. Rumah adat yang mereka buat dengan tangan mereka sendiri setiap detailnya memiliki filosofi kehidupan yang tidak semua orang dapat mampu memahaminya.

Rumah adat Masyarakat Aceh atau Rumoh adat Aceh memiliki filosofi yang sangat luar biasa. Kehidupan religius mereka sangat tercerminkan dari rumah hunian mereka. Setiap sudut rumah bahkan ukiran yang mereka ukir untuk mempercantik tampilan rumah memiliki filosofi sendiri. Agar kamu lebih paham lagi tentang filosofi Rumah adat Aceh. Yuk kita simak!

1. Rumah Menghadap Kiblat (Arah Barat)

Masyarakat Aceh merupakan masyarat bermasyarotias Islam. Bahkan provinsi Aceh sendiri memiliki nama lain yaitu serambi Mekkah. Sehingga tak heran bila rumah-rumah adar mereka menghadap ke arah barat yaitu arah kiblat (arah salat).

Rumah yang menghadap kiblat merupakan filosofi bahwa masyarat aceh sangat menjaga agama. Sebagi simbol bahwa Masyarat Aceh sangat mempercai agamanya.

2. Bahan Dasar Dari Alam

Daun rumbia, rotan, bambu, dan akar merupakan beberapa bahan dasar yang mereka gunakan untuk membuat rumah adat mereka. Selain karena dahulu lingkungan mereka masih dikelilingi hutan, ada filosofi tersendiri mengapa masyarakat Aceh masih mempertahankan adat ini.

Filosofi dari bahan-bahan yang digunakan dari alam adalah sebuah cerminan rasa syukur atau cara berterimakasih masyarakat Aceh kepada Allah SWT yang telah memberikan segala kebutuhan hidup mereka  secara berlimpah.

3. Didepan Rumah Ada Gentong Air

Gentong air sengaja disediakan oleh para tuan rumah masyarakat Aceh, mereka menaruhnya di depan rumah mereka, dengan tujuan agar setiap orang yang masuk kedalam rumah diharuskan membasuh telapak kaki mereka terlebih dahulu.

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa masyarakat Aceh sangat menjaga ibadahnya. Sehingga sebisa mungkin tubuhnya tetap bersih dan suci. Mencuci telapak kaki sebelum masuk kerumah juga dimaksudkan agar para orang yang masuk kerumah tidak membuat rumah kotor sebab telapak kaki mereka menempelkan kotoran.

Rumah bagi masyarakat aceh bukan hanya tempat hunian untuk tidur dan bercengkrama saja. Rumah adat Aceh juga merupakan tempat ibadah para penghuni rumahnya. Sehingga mereka selalu menjaga rumah mereka tetap bersih salah satunya yaitu dengan cara sebelum masuk kerumah setiap orang harus membasuh telapak kakiknya.

Kandungan filosofi lainnya dari gentong air yang berada diluar rumah adalah setiap orang yang membasuk telapak kakinya di gentong air, saat kotoran runtuh dan hilang bersamaan itu pula niat buruk orang tersebut kepada tuan rumah ikut runtuh dan hilang bersama kotoroan di telapak kaki lainnya.

4. Warna Putih Pada Cat Rumah

Rumah adat aceh didominasi oleh banyak warna seperti kuning, merah, hijau dan warna putih. Setiap warna ini memiliki arti filosofinya tersendiri. Seperti warna kuning yang mengartikan warna hangat dan ceria, memiliki arti filosofi bahwa masyarakat aceh sangat berhati hangat dan selalu bergembira.

Warna hijau juga memiliki filosofi yaitu ketenangan, dan warna tanaman subur. Filosofi yang terkandung dari warna hijau adalah harapan dari masyarakat Aceh agar panen mereka selalu berlimpah dan dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Selain itu filosofi relegius juga tidak ketinggalan dari rumah adat Aceh, filosofi religius terletak pada warna putih. Warna putih ini melambangkan bersih dan kesucian, filosofi yang terkandung dalam warna ini adalah bahwa masyarakat Aceh selalu menjaga kesucian dari tempat tinggal mereka.